Chat with us, powered by LiveChat
pokerace99

Pupusnya Upaya Luar Biasa Jessica Wongso

Pupusnya Upaya Luar Biasa Jessica Wongso

Pupusnya Upaya Luar Biasa Jessica Wongso – Usaha hukum mengagumkan Jessica Kumala Wongso pupus. Mahkamah Agung (MA) menampik permintaan peninjauan kembali (PK) terpidana masalah pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan kopi yang di isi toksin sianida.

Akhirnya, Jessica masih diberi hukuman 20 tahun penjara. Awal mulanya, dua usaha hukum Jessica ikut tidak diterima.

Masalah berawal waktu Mirna meninggal tidak berapakah lama sesudah ngopi bareng Jessica di Kafe Olivier, Jakarta Pusat, pada 6 Januari 2016. Sampai akhirnya Jessica melakukan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

Hakim memvonis Jessica hukuman 20 tahun penjara. Jessica dapat dibuktikan bersalah lakukan pembunuhan merencanakan pada Mirna lewat cara memberikan toksin sianida ke kopi yang diminum Mirna. Jessica dapat dibuktikan lakukan tindak pidana dalam Masalah 340 KUHP. Majelis hakim mengatakan Jessica dapat dibuktikan menyimpan sianida itu.

Atas vonis itu, Jessica ajukan permintaan banding. Tetapi Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta memperkuat putusan PN Jakpus Nomer 777/Pid.B/2016/PN.Jkt.Pst pada 27 Oktober 2016.

Baca jugaFakta-fakta Dampak Tsunami Selat Sunda Sejauh Ini

Setelah itu, Jessica ajukan usaha kasasi, tetapi masih tidak diterima MA pada 21 Juni 2017. Dikutip dari web MA, Rabu (21/6/2017), masalah itu diketok oleh ketua majelis kasasi hakim agung Artidjo Alkotsar dibantu dengan 2 anggotanya hakim agung Salman Luthan serta hakim agung Sumardijatmo.

Masalah dengan nomer daftar 498K/PID/2017 memutuskan untuk menampik permintaan kasasi yang diserahkan Jessica Kumala Wongso. Masalah itu masuk ke meja kasasi pada tanggal 9 Mei 2017.

Pertanyaan kunci kuasa hukum Jessica yakni tidak ada rekaman CCTV jika Jessica masukkan sianida ke kopi yang diminum Mirna. Apakah kata MA?

“Dalam memastikan karena kematian korban, judex facti tidak memastikan sendiri pemicu kematian korban yang jelas-jelas bukan kompetensinya sebab hakim bukan dokter, tapi hakim bisa dapat menyimpulkan karena kematian berdasar pada fakta-fakta persidangan, yang disebut konklusi kumulatif dari info saksi-saksi bukti yang didatangkan di persidangan, surat, alat bukti elektronik (CCTV), serta info beberapa pakar Toksikologi serta kedokteran forensik,” jawab majelis dengan nada bundar.

Atas vonis kasasi itu, Jessica ajukan PK. Apakah kata MA?

“Tolak,” demikian dikutip web MA, Senin (31/12/2018). Masalah Nomer 69 PK/PID/2018 itu diadili oleh hakim agung Suhadi, Sri Murwahyuni serta Sofyan Sitompul.

Berita Lainnya

Related Posts