Chat with us, powered by LiveChat
pokerace99

Penggunaan Kata Tabok Dinilai Bisa Beri Efek Negatif ke Jokowi

Penggunaan Kata Tabok Dinilai Bisa Beri Efek Negatif ke Jokowi

Penggunaan Kata Tabok Dinilai Bisa Beri Efek Negatif ke Jokowi – Pengakuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang gerah atas rumor PKI serta ingin menabok penebar hoaks jadi pembicaraan. Pemakaian kata ‘tabok’ dipandang dapat berefek negatif buat Jokowi.

“Semestinya (Jokowi tidak memberi pernyataan semacam itu), karena kesannya tidak demikian bagus buat beliau,” kata periset senior LIPI Syamsuddin Haris di The Atjeh Connection Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (24/11/2018).

Haris minta beberapa hal yang tidak substansial dijauhi beberapa capres. Ia menjelaskan beberapa calon presiden semestinya membiarkan masalah yang tidak substansial jadi ranah tim sukses.

Baca juga : Kabar Merapat ke Jokowi di Pilpres 2019 Ini Kata Anies

“Beberapa hal yang tidak intisari, yang tidak strategis harusnya dijauhi oleh Pak Jokowi ataupun oleh Pak Prabowo. Biarlah hal tersebut jadi lokasi timses. Kan team kesuksesan banyak. Jubirnya ada,” jelas Haris.

“Jadi saya imbau pada Pak Jokowi, petahana, tidak usahlah masuk lokasi itu, statement-statement pihak lawan politik,” sambungnya.

Awal mulanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) terasa gerah terserang rumor hoaks, terpenting masalah dakwaan dianya aktivis PKI. Jokowi bingung masih tetap ada orang yang meyakini rumor itu.

Jokowi menyebutkan ada 9 juta masyarakat Indonesia yang meyakini rumor itu. Diakuinya telah 4 tahun terserang rumor PKI.

“Coba di sosmed, itu ialah DN Aidit pidato tahun 1955. La kok saya berada di bawahnya? Lahir saja belumlah, astagfirullah, lahir saja belumlah, tetapi telah dipasang. Saya lihat di gambar kok ya persis saya. Ini yang terkadang, haduh, ingin saya tabok, orangnya dimana, saya mencari benar,” tutur Jokowi waktu bagikan sertifikat tanah di Lampung Tengah, Lampung, Jumat (23/11) tempo hari.

“Saya ini telah 4 tahun diginiin. Ya Allah, sabar, sabar, tetapi saya telah bicara sebab ada 6 % yang yakin berita ini. Enam % itu 9 juta (masyarakat) lebih lo. La kok yakin?” imbuhnya.

Berita Lainnya

Related Posts